(1)
Hari itu awan-awan murung.
Dan seorang anak kecil bertanya,
โMengapa langit menangis?
Dimanakah matanya?โ
Ibunya tersenyum resah,
menuntunnya ke dalam rumah.
Lalu
Angin pun menjadi ribut
Bergegas
menuntun mata badai
menuju kota.
(2014)

Carmina Cor Revelant
(1)
Hari itu awan-awan murung.
Dan seorang anak kecil bertanya,
โMengapa langit menangis?
Dimanakah matanya?โ
Ibunya tersenyum resah,
menuntunnya ke dalam rumah.
Lalu
Angin pun menjadi ribut
Bergegas
menuntun mata badai
menuju kota.
(2014)

Dengarlah kesedihan perupa yang membangun istana pasir di tepi pantai laut yang bergejolak. Karena semegah apapun istana yang dibuat, ia kan runtuh dalam satu sapuan ombak.
Dan dengarlah kesedihan penyair yang menulis di debu gurun yang berkecamuk. Karena seindah apapun syair yang digubah, ia kan musnah dalam satu hembusan angin.
ใ คใ คใ คใ คใ คใ ค
(2013)

lihatlah arangarang lancang membentang seolah bintang gemintang,
kembang jelatang berpesta dengan kumbang jalang
nyesap hingga kenyang darah yang terhidang di jalanan lengang.
di padang gersang kerontang dentangdentang lonceng di leher sapi
berlalulalang menggoncang gagang ilalang yang menegang regang
sedang di medan laga genderang berdendang melihat hulubalang saling mencabik
dan orangorang mengacungkan kelewang.
petani malang yang girang nembang nyambut hujan datang
di pematang sedang di hilir bandang berang menerjang
siung-siung brambang di ladang.
dalam liang, tikustikus riang memandang kucing belang yang mengerang menjadi belulang sementara anjinganjing sibuk berbincang siapa yang hendak mengetam tulangtulang dan elang mengintai mereka riang dan mereka berbincang dalam bayangbayang.
di ngarai di jurangjurang berkumandang lantang tangis kunang-kunang kepayang dalam kandang mengenang arwah leluhur luhur yang lalim sewenangwenang mengokang ke arah kijangkijang terkekang yang tengah sembahyang.
ooo…. Tuhan geram mengatupkan rahang geraham menyalangkan matanya yang maha tajam menghujam tanpa bimbang tak terintang mengabulkan doa lindu tembeliung, mengutus malaikat dengan pedang terhunus perlambang bahwa Tuhan ikut berperang
(2013)

kutebar benih,
benih menjadi tunas menjadi kuncup menjadi kuntum menjadi bunga menjadi
ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คbuah
buah yang nyimpan benih yang kutuai tuk kutebar dan kusemai
ใ คใ คใ คใ คใ คใ คesok.
kau pun tebar angin,
akulah yang tuai badai.
ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
ค
(2013)

(1)
biarkanlah aku membisu dalam hening purnama
bulan merah bersembunyi di balik polusi cahaya
kota ini tak ramah, begitu juga denganmu.
tak pernah bertegursapa kala bersua.
entah apa yang menahanmu
Untuk sekadar melemparkan tanya.
(2)
biarkanlah bangku taman itu menjadi saksi bisu masa lalu.
biarlah para penyapu membereskan kekacauan yang telah ada.
biarkanlah anak-anak di jalanan berdendang ria
menghibur, menghiburmu selalu.
dan biarlah pengemis ini meminta bayaran
Atas sunyi penantiannya.
setidaknya berikanlah ia serpihan rasa
agar tetap jadi hambamu yang setia.
(3)
kemarin telah berlalu,
hari ini telah terlewat,
dan esok dipenuhi kabut.
(4)
kota ini dingin,
begitu juga denganmu.
(2012)
