: circa 2016
ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
ค
(1)
entah berapa malam lagi
harus ia larutkan
dalam secangkir kopi,
tuk bantunya tumbuhkan nyali,
merentas kata-kata
melintas bandung-jakarta.
ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
ค
tentu bila ia berani
kan ia lepas isyarat nir-rahasia
melintasi ratusan mil rel kereta
dan jalan raya
tapi menuju mana?
ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
ค
(2)
seringkali ia bertanya-tanya
mengapa tak kau beri saja
selembar peta yang telah ditandai:
agar rindu dapat
tak lagi tercegat
di semrawutnya kota;
ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
ค
agar kata-kata
tak tersesat senantiasa
di setiap persimpangan tanya;
ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
ค
dan juga tentu
agar ia mampu
temukan jalur terdekat
menuju hatimu.
ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
ค
(3)
maka
anggaplah saja perjalanan
berujung pada perjumpaan.
ia mengetuk
lalu kau tersenyum,
membuka pintu
yang telah lama disembunyikan.
ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
ค
atauโฆ
bisa jadi pengharapan
harus urung
pada kemungkinan
yang tak diketahui
ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
ค
pada kemungkinan
pintu tak jua terbuka
dan suara seorang
yang ia kenal lekat menjawab,
“maaf pak, salah alamat.”
ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
ค
(4)
ah mungkin memang
harus ia larutkan
ratusan malam lagi
dalam secangkir kopi
tuk bantunya tumbuhkan nyali
meretas kata-kata
membawa cinta
antara bandung-jakarta.
(2018)









