sejak beralih profesi jadi jenazah,
ia mandiri.
ia mandi, mengenakan mori,
lalu shalat dan menggali
: tidur di kuburnya sendiri.
(2026)

Carmina Cor Revelant
sejak beralih profesi jadi jenazah,
ia mandiri.
ia mandi, mengenakan mori,
lalu shalat dan menggali
: tidur di kuburnya sendiri.
(2026)

di depan serambi,
lelaki itu memikirkan diagnosa
gejala-gejala aneh
yang menjangkiti rumahnya.
tentang kalender yang berdiam diri,
hingga tak terasa lagi: denyut hari-hari
yang hitam dan merah itu.
ruangan jadi bilik tanpa jendela,
mengatup: tak mengalirkan pijar
dan hangat cuaca.
lorong menyempit,
tersumbat deret foto monokrom
yang bergantung
di dinding relung.
jam di rumah
pun tak lagi berdetak
menghitung detik kami,
semenjak degupmu terhenti
: ibu.
(2026)

(1)
di altar ini,
ia merapal namamu di kotak pencarian
sepanjang malam. bertapa depan layar,
menggelar ritual pemanggilan,
berharap bangkit sepenggal notifikasi
dari kuburmu yang virtual.
(2)
dalam semedi,
segala ajian dan azimat telah ia cari;
: demi menggandakan dan membirukan
ratusan centang tunggal yang dikirimkan
โ tempo hari.
(3)
dalam hening, ia bertanya:
adakah mantera
yang mampu dan sudi
meretas enkripsi sunyi
mu?
(2026)

(1)
di depan penghulu,
lelaki itu tak henti mencuri pandang
pada selengkung rembulan
yang rekah di wajahmu.
โ(2)
digamit eratnya tangan di hadapan
seraya berucap penuh keyakinan,
“kuterima nikahnya, cantik binti jelita
dengan mas kawin seperangkat alat shalat,
emas lima gram, dan
semesta beserta seisinya.”
โ(3)
lalu seketika ruang
jadi tempat peluncuran doa-doa,
menyeruak beterbangan
: menuju angkasa.
โ(4)
sementara di depan penghulu,
sekecup hangat
pun mendarat
tepat di keningmu.
: yang lantas sirna,
seperti biasa.
(2026)

(1)
di secangkir kopimu yang kian gigil,
kepulan uap itu tak ingin beranjak
dari meja paling sudut
: tempatmu menunggu seseorang,
di malam yang makin larut.
(2)
kepulan uap itu, dalam benaknya,
ingin selamanya kau amati.
lalu kalian bercengkrama berdua,
lantas menikah, dan
punya uap-uap kecil yang lucu.
(3)
ia tahu,
bahwa semua harus tiba
pada sebuah keniscayaan.
maka sebelum mengembun,
setidaknya ia ingin mengecup
sebekas merah di bibir
cangkir kopimu yang kian gigil itu.
(2026)

sungguh ia tak ingin diam tersedu-sedan,
menatap wajahmu di layar
dalam piksel-piksel yang mengabur.
ia hanya ingin kalian berjalan beriringan,
saling berpandangan lalu berucap
selamat tinggal yang tulus,
sore itu.
(2026)

(1)
di hamparan tabirmu yang malam,
ia hanya menemukan
sepasang bulan sabit yang melengkung
tiap kali kau tersenyum
โsatu-satunya kepingan benderang
yang jatuh dari langitmu.
(2)
seperti astronom purba,
diam-diam ditariknya
garis-garis imajiner di udara;
mencoba merangkai teka-teki
dari lengkung alismu ke selatan arah.
menebak di mana letak bintang jatuh,
atau rona pipi yang bersembunyi
โdi balik pekat tiraimu.
(3)
di angkasa ini,
sungguh ia sadari
beberapa rasi bintang
memang ditakdirkan rumpang.
maka ia biarkan kepingan wajah itu
tetap jadi rahasia yang mengatup;
sembari menarik nafas panjang,
ia bergumam:
barangkali di semesta yang lain,
ia diizinkan melengkapi
teka-tekimu itu
secara utuh.
(2026)
