(1)
entah berapa bulan,
dilalui lelaki itu seperti seorang ibu.
disembunyikannya rongga dada
yang kian busung itu.
terisi rasa yang serupa
janin jadah ini, yang terbuahi
dari sepotong senyummu tempo hari.
(2)
sepanjang waktu,
diasuhnya dosa dalam khidmat.
ditahannya ringis bahagia
tiap kali aib itu menendang perlahan
di balik rusuknya.
(3)
hingga suatu pagi,
undanganmu tiba. lalu batin luruh
diliputi perih yang luka, dan nyeri
yang tak boleh diberi nama itu pun lahir
: mati dalam sudah yang paling darah.
(4)
maka tengah malam,
dalam isak yang menggerimis
ia diam-diam menggali relung,
membuat kubur untuk anaknya
: yang takkan pernah kau kenali.
(2026)

Leave a Reply