kau menanti, aku berlari
menuju mu.
tuk menghantar
sepucuk isyarat rahasia
perihal: penyatuan dua jiwa.
terimalah.
maka kan ku beri
selingkar logam, dan
sepotong langit yang tak henti
menghujanimu dengan puisi.
(2017)

Carmina Cor Revelant
kau menanti, aku berlari
menuju mu.
tuk menghantar
sepucuk isyarat rahasia
perihal: penyatuan dua jiwa.
terimalah.
maka kan ku beri
selingkar logam, dan
sepotong langit yang tak henti
menghujanimu dengan puisi.
(2017)

setiap tanggal tua, musim berubah. matahari pindah ke dalam rumah.
seantero ruang jadi panas rasanya;
sementara kamar tidur malah makin dingin. ranjang beku, dilanda badai salju.
bah, aku jadi tak bisa menjelajah
ngarai, bukit, dan lembahnya!
(2017)

: untuk Nur
aku kaget saat tiba-tiba kau berteriak,
“kau beri makan masa lalumu dengan sajak, masa aku tidak!”
lalu tanpa ba-bi-bu,
aku bergegas merebus kata-kata. kepalaku pun ngebul jadinya.
sejam, dua jam, sepekan, dua pekan.
sajakku belum juga masak.
kau mulai tak sabar dan bertanya,
“aku lapar, mana hidangannya?”
setengah berlari kecil, aku menjawab,
“tunggu sejenak, sajaknya belum tanak.”
kau jawab, “oke. awas kalau gak enak.”
setelah matang,
aku tuangkan sajakku ke secarik kertas,
lantas ku hidangkan di atas meja
baca. dari rak peralatan makan, untukmu tak lupa
ku bawa kacamata.
setelah itu aku hanya memandangimu dengan cemas,
persis seperti kontestan yang menunggu tanggapan juri
dalam suatu lomba masak di televisi.
dengan lahap, kau dorong masuk sajakku melalui matamu.
setelah semuanya tuntas disantap,
kau pun tersenyum dan bilang,
“satu porsi lagi ya, mas!”
aku pun mengangguk,
“nggih, ndoro.”
(2017)

di halaman rumah, ramadhan sedang mekar-mekarnya.
semerbak wanginya mengetuk setiap pintu.
para tetangga pun menjelma menjadi kawanan lebah
terbang berduyun-duyun, datang sembari
membawa hamparan sajadah dan lantunan tilawah.
sedangkan aku di sini,
duduk di atas sofa
hanya memandanginya
di balik jendela.
(2017)

dalam doaku,
ada ribuan titik rindu
menghambur saat kusebut namamu
telah bersepakat kita di alam ruh,
tuk duduk bersanding dalam mahligai mengharu biru.
menjelma engkau menjadi sulbiku,
menjemput anak-anak yang bersembunyi
dalam rahim waktu.
memutih bersama hingga izrail tiba,
lalu saling berkecipak air
di telaga salsabil.
aamiinใ
ค
(2017)

(1)
untukmu, jelita
ia biarkan doa-doa itu tinggal
bersarang dalam dadanya.
sepanjang waktu bertelur mereka
lantas netas,
keluar lewat mulut,
berenang-renang di pelupuk mata
lalu terbang menembus atap,
menuju langit
: tak kembali.
ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
ค
(2)
sekian lama
mereka berbiak,
semakin banyak
: membuatnya sesak.
ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
ค
(3)
dan
setelah muasal segala doa -kau- pergi,
untuk apa lagi
ia biarkan ruang yang tak luas ini
dijejali cericit mereka
yang kan raib tak kembali?
ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
ค
(4)
hingga di satu ketika,
ia putuskan
menuntaskan segala urusan.
mulut ia kunci
dengan geletar. ia bakar
semua sarang yang bergantung
di dinding relung.
dengan silu
ia tikam semua doa
satu per satu.
dan dalam senyap,
danau di pelupuk limpas
membawa hanyut doa-doa
ke sudut yang paling gelap.
ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
ค
(5)
maka
karenamu, jelita.
ia relakan doa-doa itu binasa
membusuk dalam dadanya.
ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
ค
ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
ค
(2017)

(1)
ada yang tak henti menghitung setiap detik-detak yang berdegup dalam dadamu
: waktu
ada yang tak lelah mengubah setiap helai malammu yang menawan menjadi putih bak awan
: waktu
ada yang tak jemu menghapus ribuan wajah dan masa lalu dari ingatanmu
: waktu
namun ada yang tak pernah bisa dihitung, diubah, dan dihapus oleh waktu
: cintaku padamuใ
คใ
คใ
ค
(2017)
