DOA, 2

(1)
untukmu, jelita
ia biarkan doa-doa itu tinggal
bersarang dalam dadanya.
sepanjang waktu bertelur mereka
lantas netas,
keluar lewat mulut,
berenang-renang di pelupuk mata
lalu terbang menembus atap,
menuju langit
: tak kembali.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
(2)
sekian lama
mereka berbiak,
semakin banyak
: membuatnya sesak.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
(3)
dan
setelah muasal segala doa -kau- pergi,
untuk apa lagi
ia biarkan ruang yang tak luas ini
dijejali cericit mereka
yang kan raib tak kembali?
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
(4)
hingga di satu ketika,
ia putuskan
menuntaskan segala urusan.
mulut ia kunci
dengan geletar. ia bakar
semua sarang yang bergantung
di dinding relung.
dengan silu
ia tikam semua doa
satu per satu.
dan dalam senyap,
danau di pelupuk limpas
membawa hanyut doa-doa
ke sudut yang paling gelap.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
(5)
maka
karenamu, jelita.
ia relakan doa-doa itu binasa

membusuk dalam dadanya.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
(2017)

Published by


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!