(1)
di hamparan tabirmu yang malam,
ia hanya menemukan
sepasang bulan sabit yang melengkung
tiap kali kau tersenyum
—satu-satunya kepingan benderang
yang jatuh dari langitmu.
(2)
seperti astronom purba,
diam-diam ditariknya
garis-garis imajiner di udara;
mencoba merangkai teka-teki
dari lengkung alismu ke selatan arah.
menebak di mana letak bintang jatuh,
atau rona pipi yang bersembunyi
—di balik pekat tiraimu.
(3)
di angkasa ini,
sungguh ia sadari
beberapa rasi bintang
memang ditakdirkan rumpang.
maka ia biarkan kepingan wajah itu
tetap jadi rahasia yang mengatup;
sembari menarik nafas panjang,
ia bergumam:
barangkali di semesta yang lain,
ia diizinkan melengkapi
teka-tekimu itu
secara utuh.
(2026)

Leave a Reply