(1)ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
ค
di batas kota,
keretaku melaju
tinggalkan segala
hingar-bingar
dan binar cahaya,
juga dirimu
di stasiun pemberangkatan.
ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
ค
rel memanjang
menuju lembayung di ufuk,
menjemput mendung dan gemuruh.
bagaimanapun,
semua harus tetap pulang
ke kampung halaman
di ujung zaman.
ใ
คใ
คใ
คใ
ค
(2)ใ
ค
gerimis rerintik
curah sepanjang jalan.
di lubang relung
kenangan menggenang,
“siapa yang telah mengundang
melankolia datang?”
ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
ค
dalam gerbong sempit ini:
sepi menghimpit,
tanya makin deras,
rindu bertempias di jendela.
ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
ค
tersengal,
ku tuliskan namamu
di sehembusan nafas penghabisan
pada kaca yang berembun,
lalu menyaksikannya
laun lambat lenyap
diserap cuaca.
“kasih, tak bisakah kau tinggal lebih lama
di ingatanku yang senja?”
ใ
คใ
คใ
คใ
คใ
คใ
ค
(3)
kereta terus berjalan
menembus hujan.
aku pun pulang
dengan tubuh gemetar
dan debaran yang tak jua pudar.
(2018)









