MALAM SEBELUM KENDURI

(1)
selepas isya, terbit gelisah
menenggelamkan perempuan itu dalam gundah.
namun seketika sumringah datang
tatkala ia melihat ibunya
pulang dari celah
ingatan, kembali ke rumah
membawa seikat senyum
dan petuah,

“anakku, kemari dan
simaklah!”

(2)
hakikat perkawinan
ialah menghentikan laju
rambat karat
yang beringsut menuju
hati lelakimu;

rawatlah geletar dalam dadanya
dengan selalu memulas rupamu
dengan pupur dan gincu;

jagalah senantiasa
rancak kainmu dan sedap gulaimu;

lambatkan jalar gemetar
saat ia dipukul kehidupan,
rengkuh ringkihnya dalam dekap.
peluk lelahnya dalam senyap;

secepat apapun kau berjalan,
biarkan ia ada di depan,
kau menggamit berpegang tangan,
dan langkahmu seturut arah bayangan.

(3)
sepanjang pembicaraan,
perempuan itu tertunduk
dan jemarinya tak henti
meremas ujung baju.

(4)
setelah tutup semua tutur.
ia pun berpamitan.
perempuan itu mencium tangan ibunya
lalu mempersilahkannya
beranjak kembali
menemani bapaknya

: di foto hitam putih
di sudut kamar itu.


(2026)

Published by


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!