SUATU PETANG DI STASIUN KIARACONDONG

petang itu, di stasiun kiaracondong ada yang tak henti menatap kereta yang lelah —menyeret gerbong sejarah. beban kian sarat, lokomotif tersengal menatapnya dengan isyarat, “masuklah, sebentar lagi aku berangkat.”

perempuan tadi yang menatap kereta (engkau rupanya) tergeming gemetar. berupaya kembali pulang, menyusuri jalan menuju ruang kelam yang temaram. sementara itu jarum jam dinding di lorong peron terus mengayunkan lengannya —berupaya menghapus jejak kenangan yang mewaktu di parasmu.

petang itu, rinai hujan turun perlahan. menyusuri cakrawala yang kian muram. malam menjelang. engkau berteduh di bawah pohon hujan yang rindang, bersembunyi dari tatapan waktu di balik tirai gerimis. engkau menangis karena harus mengenyahkan satu wajah yang menukar dua bola matanya dengan hatimu.

petang itu, angin menderu-deru dan langit berkaca-kaca. hujan tak jua berhenti, meninggalkan berjuta tanya —tentang muasal bulir permata yang berjatuhan membasahi kota. mungkin ia diutus, pikirmu, diarak dari ujung samudera luas hanya untuk satu tugas: menghanyutkan masa lalu —yang telah lama berjejal di dadamu.

petang itu, di stasiun kiaracondong, kereta itu masih menunggu. lokomotif tersengal, sekali lagi memberi isyarat. perempuan itu menghela nafas dalam-dalam. dengan mantap ia menjawab,
“baiklah, aku berangkat.”



(2015)

Published by


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!