saban hari, anak itu berdiam diri di tepi sungai,
memancing angan-angan:
kecil, warna warni, berenang kesana kemari.
setelah dapat, ia bawa pulang ke rumah
dan dimasukkan ke akuarium di dalam tidurnya.
namun hari itu langit mendung.
gemuruh di hulu. lalu seketika aliran waktu
menyeret ia menuju jeram yang tak pernah dilaluinya.
ia terbangun di kamar beraroma karbol.
seorang laki-laki berpakaian serba putih berkata dengan berat,
“maaf bu, sudah stadium empat”.
perempuan di samping ia
menatap dengan mata berkaca-kaca
bagai telaga. lantas sungai bermunculan
mengalir deras di setiap sudutnya.
teringat sungai,
anak itu pun tiba-tiba ingin memancing lagi.
(2018)

Leave a Reply