1.
(awal mula)
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
setelah kau pergi, sirine menyalak.
serentak
semua mengubah mulut mereka
menjadi moncong bedil
menembakkan namamu serupa proyektil,
melesat menembus tengkorak
dan meledak dalam kepalaku.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
2.
di hari itu
hari tiga puluh bulan dua
: agresi melankolia pertama.
ultimatum diseru
: menyerahlah atau binasa!
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
3.
aku menolak.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
dan seketika
seluruh relung dikepung
tak henti dibombardir tanya.
risau dan ragu
menyerbu ke dalam kota.
garis pertahanan
digempur habis-habisan.
asa bergelimpangan, dan rasa
berceceran di sepanjang jalan.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
di depan mata,
kekalahan sudah nyata.
ultimatum kembali diserukan
: menyerahlah
atau bersiap tuk dibinasakan! ㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
4.ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
tidak! tidak!
menyerah tak pernah jadi opsi
lebih baik ku relakan kota
pada bara api
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
5.
akhirnya harus ku ungsikan
segenap kewarasan
meninggalkan
asap dan jelaga,
pepuingan kenang
dan tahun yang membentang
dari satu permulaan.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
6.
(dekade terlewat)
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
di depan beranda
para pemuda
meneriakkan yel-yel propaganda
“jasmerah! jasmerah!”, ujar mereka.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
oh… tenanglah
aku tak hendak melupakan sejarah
tentang kota ini, lautan api
: segenap cinta
yang nyala dan mati.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
pula tak lupa
tentang sosok
yang harus ku anggap telah jadi abu
: dirimu
(2018)

Leave a Reply