: 28 Agustus 2025
(1)
subuh,
bocah itu membayangkan diri
menjelma burung gereja
yang tak henti berlompatan
di dahan jambu depan rumahnya.
yang tak henti melempar tutur
membangunkan bapaknya
dari lelapnya tidur.
(2)
pagi,
ia membayangkan diri
menjelma dahan jambu
yang melambaikan
reranting dedaunan,
yang menghidu bau masakan ibu dalam rumah,
yang menatap dengan seksama
saat bocah itu mencium tangan bapaknya
lalu mengantarnya hingga
penghujung trotoar.
(3)
siang,
Ia membayangkan diri
menjelma menjadi trotoar
yang tak pernah mengejamkan mata.
yang tak henti bercengkerama
dengan aroma knalpot dan keringat.
yang menyaksikan bapaknya
memarkir lelah dan payah,
sembari memandangi layar telpon
yang tak kunjung menjaring penumpang.
(4)
sore,
ia membayangkan diri
menjelma menjadi telepon
yang retak layarnya dan
diikat karet gelang itu.
yang bergelayutan di atas kemudi
lalu jatuh di pinggir jalan,
menyaksikan bapaknya lambat laun
semakin jauh
luput dari pandangan.
(5)
malam,
ia melihat berita di televisi,
tentang bapaknya yang tewas
digilas-lindas tirani
yang menggelinding kencang
sepanjang jalan.
(6)
ia lalu membayangkan diri
menjelma menjadi
derak suara remuk
sekujur bapaknya,
berjerit-teriak
membangunkan angkara
seisi kota.
(2025)

Leave a Reply